Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Løkke Rasmussen, menyatakan setelah pertemuan dengan pejabat AS di Gedung Putih. Bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin “taklukkan Greenland”. Sebuah wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark — meskipun klaim tersebut bertentangan dengan hukum internasional dan keinginan Denmark serta penduduk setempat. Rasmussen menyebut seluruh gagasan taklukkan wilayah itu sebagai sesuatu yang tidak bisa diterima oleh Copenhagen.

Isi Pertemuan di Gedung Putih

Pertemuan itu melibatkan Menteri Luar Negeri Denmark dan Greenland bersama pejabat tinggi AS termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menlu AS Marco Rubio. Tujuannya adalah membahas masa depan Greenland dan kekhawatiran keamanan di kawasan Arktik. Rasmussen mengatakan bahwa perbedaan pandangan antara Denmark dan AS tetap besar meskipun diskusi berlangsung secara terbuka.

Donald Trump sendiri dikenal sejak awal Januari 2026 mengulangi klaimnya bahwa AS “perlu” Greenland demi keamanan nasional. Ia berargumen bahwa kepemilikan wilayah tersebut akan memperkuat posisi AS di NATO dan menjaga pengaruh geopolitik dari rival seperti Rusia atau China. Rasmussen menegaskan bahwa niat tersebut jelas disampaikan selama pertemuan. Namun ia menyatakan bahwa hal itu bukan dalam kepentingan Kerajaan Denmark dan tidak akan diterima.

Sikap Denmark dan Greenland

Denmark dan Greenland bersama-sama menegaskan bahwa Greenland bukan untuk dijual atau ditaklukkan. Kedua negara menolak gagasan yang diasosiasikan dengan tuntutan Trump. Mereka menegaskan hak penentuan nasib sendiri bagi warga Greenland dan kedaulatan teritorial Denmark yang mencakup pulau tersebut.

Sebagai respons atas pernyataan AS yang keras, Denmark bahkan meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Arktik untuk menunjukkan tekad mempertahankan wilayah dan sekutu NATO lainnya. Langkah ini termasuk memperluas latihan bersama serta meningkatkan patroli dan alat militer di wilayah sekitar Greenland.

Tanggapan Internasional

Pihak lain, terutama dari negara-negara Eropa, memberikan dukungan kepada Denmark dalam mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Kepedulian bersama terhadap aturan internasional dan penolakan terhadap tindakan sewenang-wenang oleh negara kuat menambah tekanan diplomatik terhadap klaim Trump soal Greenland.

Implikasi Jangka Panjang

Isu ini mencerminkan dinamika geopolitik yang lebih luas di kawasan Arktik, di mana perubahan iklim membuka rute laut baru dan potensi sumber daya mineral yang besar. Kepentingan keamanan, ekonomi, dan strategi turut memperumit hubungan antara AS dan sekutu tradisionalnya. Dialog dan kerja sama lanjutan lewat kelompok kerja diplomatik kemungkinan akan terus menjadi fokus demi mencari titik temu tanpa mengorbankan kedaulatan pihak lain.