Pariwisata Penghasil Devisa kembali menjadi fokus perhatian pemerintah setelah Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Prabowo Subianto, mengkritisi kondisi kota kumuh di sejumlah daerah tujuan wisata. Menurut Prabowo, potensi besar sektor pariwisata sebagai penghasil devisa harus dipadukan dengan penataan ruang yang baik agar daya tarik dan pendapatan negara dari kunjungan wisatawan tetap meningkat.
Baca Juga: Kepala Kru Ungkap Betapa Hebatnya Marc Marquez di MotoGP 2025
Potensi Besar Pariwisata Sebagai Sumber Devisa
Indonesia dikenal memiliki kekayaan destinasi wisata yang menarik wisatawan mancanegara. Keindahan alam, budaya yang beragam, serta keramahan masyarakat merupakan modal utama untuk menarik kunjungan internasional. Sektor ini menjadi salah satu motor ekonomi karena mampu menghasilkan devisa dalam jumlah besar melalui sektor jasa pariwisata, penginapan, kuliner, dan transportasi.
Prabowo menekankan bahwa pemanfaatan potensi ini harus dilakukan secara optimal. Pariwisata tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Sorotan pada Kota Kumuh
Walaupun potensi pariwisata sangat besar, Prabowo menyoroti keberadaan kota-kota kumuh di sekitar daerah tujuan wisata. Keberadaan kawasan kumuh dinilai dapat menurunkan citra destinasi wisata di mata pengunjung, khususnya wisatawan asing. Kondisi tersebut disebut bisa memengaruhi keputusan wisatawan dalam memilih destinasi dan secara tidak langsung menghambat devisa yang bisa diperoleh negara.
Prabowo mengajak pemerintah daerah untuk serius menata kota dan membenahi lingkungan yang belum tertata. Penataan kawasan harus dilakukan agar masyarakat setempat juga dapat merasakan manfaat secara langsung dari sektor pariwisata.
Strategi Meningkatkan Devisa Wisata
Untuk memperkuat peran pariwisata sebagai penghasil devisa, sejumlah langkah strategis perlu dilakukan. Pertama, peningkatan fasilitas publik dan infrastruktur wisata menjadi prioritas. Akses yang lebih baik akan meningkatkan kenyamanan wisatawan dalam menjelajahi berbagai destinasi.
Kedua, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku industri pariwisata sangat penting. Kolaborasi ini bertujuan menciptakan sinergi dalam promosi destinasi wisata, pengembangan produk wisata, serta pelatihan sumber daya manusia di bidang pariwisata.
Ketiga, penataan kota dan lingkungan juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Prabowo menegaskan bahwa kota yang bersih, tertata, dan bebas dari kawasan kumuh akan memberikan kesan positif bagi wisatawan, sehingga meningkatkan minat kunjungan dan durasi tinggal.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Pariwisata yang dikelola dengan baik dapat memberi dampak ekonomi signifikan. Tidak hanya devisa yang meningkat, tetapi bisnis lokal seperti usaha kecil dan menengah juga tumbuh. Industri kerajinan, kuliner, dan jasa pariwisata menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat lokal.
Selain ekonomi, aspek sosial pun ikut dirasakan masyarakat. Bertambahnya pekerjaan di sektor pariwisata dapat mengurangi angka pengangguran dan mendorong pemerataan kesejahteraan di daerah tujuan wisata.
Kesimpulan
Pariwisata Penghasil Devisa harus diperkuat dengan penataan kota yang baik dan pengembangan destinasi yang ramah wisatawan. Sorotan Prabowo pada keberadaan kota kumuh menjadi pengingat bahwa pembangunan fisik dan lingkungan juga merupakan bagian penting dari strategi meningkatkan devisa nasional. Dengan kerja sama antar pihak dan fokus pada kualitas destinasi, sektor pariwisata berpotensi menjadi pilar penggerak ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
