Teori bahwa bumi itu datar bukanlah gagasan baru. Sejak zaman kuno, banyak peradaban percaya bahwa dunia adalah bidang datar dan bukan bulat. Sejarah Teori Bumi Datar ini kemudian berkembang dan bertahan hingga era modern, meski telah dibantah oleh bukti ilmiah kuat. Dalam era internet, teori ini kembali muncul dan menemukan pengikut baru.
Baca Juga: Komposisi Pembalap MotoGP 2026, Marc Marquez dan Bagnaia Bertahan di Ducati
Asal-usul Pandangan Bumi Datar
Konsep bumi datar telah ditemukan dalam berbagai budaya kuno—Mesir, Babilonia, dan peradaban Asia. Dalam pandangan awal tersebut, bumi dianggap sebagai bidang yang dikelilingi oleh lautan dan langit di atasnya. Seiring kemajuan pemikiran Yunani, muncul gagasan bahwa bumi memiliki bentuk melengkung. Filsuf seperti Pythagoras dan Aristoteles mengemukakan bukti seperti bayangan bumi saat gerhana bulan yang berbentuk melengkung sebagai indikator bumi bulat. Coconote+2Kampus Kwik Kian Gie+2
Pada abad pertengahan, meskipun orang-orang terpelajar umumnya menerima bumi bulat, narasi populer bahwa “orang zaman dahulu percaya bumi datar” tetap tersebar luas—sering kali dibesar-besarkan dalam literatur modern.tirto.id+1
Kebangkitan Kembali Teori Datar di Era Modern
Meski sains telah menguatkan bahwa bumi bulat, Sejarah Teori Bumi Datar mengalami kebangkitan di abad ke-20 dan 21, terutama dengan terbentuknya organisasi seperti Flat Earth Society. Di era digital, teori ini menyebar melalui media sosial, video, dan forum daring. Beberapa alasan mengapa gagasan ini kembali muncul adalah:
- Skeptisisme terhadap lembaga ilmiah dan otoritas.
- Keyakinan pada teori konspirasi bahwa fakta sains telah disembunyikan.
- Kurangnya literasi ilmiah sehingga bukti ilmiah sulit diterima.
- Efek algoritma media sosial yang memperkuat kepercayaan grup kecil.kumparan+2detiknews+2
Argumen Utama Penganut Bumi Datar
Penganut teori bumi datar biasanya mengemukakan beberapa klaim sebagai berikut:
- Permukaan terlihat datar — secara visual, horizon tampak lurus, bukan melengkung.
- Konspirasi penghilangan bukti — mereka percaya bahwa foto bumi dari luar angkasa adalah hasil manipulasi.
- Penolakan terhadap gravitasi — beberapa penganut menyebut gaya gravitasi sebagai narasi palsu.
- Pengalaman pribadi dan pengamatan sehari-hari — seperti air tampak selalu datar dan kapal yang tampak “hilang” di cakrawala dianggap sebagai bukti datar.
Klaim-klaim ini telah dibantah dengan berbagai eksperimen ilmiah dan observasi: kapal perlahan “tenggelam” di cakrawala, bayangan bumi bulat dalam gerhana, citra satelit, dan eksperimen pengukuran geodesi.Coconote+3Kampus Kwik Kian Gie+3Gramedia+3
Faktor Sosial dan Psikologis di Balik Kepercayaan
Mengapa sebagian orang tetap percaya teori ini? Beberapa faktor sosial dan psikologis memainkan peran:
- Efek komunitas dan identitas grup — menjadi anggota komunitas yang berbagi kepercayaan tertentu memberi rasa keterikatan dan pengakuan.
- Penolakan terhadap kesesuaian — bagi sebagian orang, menolak pandangan utama dianggap sebagai bentuk kebebasan berpikir.
- Bias konfirmasi — orang cenderung mencari informasi yang mendukung pandangannya dan menolak bukti yang bertentangan.
- Kurangnya latar belakang pendidikan sains — beberapa pengikut tidak memiliki akses atau pemahaman cukup terhadap metode ilmiah.detiknews+2Luk Staff UGM+2
Kesialan Dalam Upaya Pembuktian
Beberapa penganut teori bumi datar berusaha melakukan eksperimen ekstrem untuk membuktikan pandangan mereka. Misalnya, peluncuran roket buatan sendiri yang menewaskan pelakunya atau ekspedisi ke Antartika untuk “mencapai tepi bumi”. Dalam banyak kasus, upaya ini gagal karena metodologi lemah, risiko tinggi, atau asumsi yang salah.National Geographic+1
Dampak Sosial dan Media
Seiring penyebaran teori ini di media sosial, teori bumi datar menjadi contoh bagaimana misinformasi bisa meluas dalam masyarakat. Kepercayaan ini memicu diskusi tentang literasi media, pendidikan sains, dan bagaimana masyarakat menghadapi klaim yang bertentangan dengan bukti ilmiah.kumparan+2Gramedia+2
Kesimpulan
Sejarah Teori Bumi Datar menunjukkan bahwa gagasan ini memiliki akar yang sangat tua dan telah berevolusi melalui waktu. Meski telah terbantahkan oleh sains modern, kepercayaan terhadap teori ini masih bertahan karena campuran faktor budaya, psikologi, dan akses informasi. Dalam dunia yang semakin mengandalkan data dan bukti, memahami asal-usul dan alasan keyakinan seperti ini menjadi penting agar masyarakat tetap berpijak pada realitas ilmiah dan kritis.
