Politik Pecah Belah di India

Sering kali, kita melihat bahwa Mengapa bekas jajahan Inggris terlihat lebih makmur menjadi pertanyaan yang menarik dalam studi sejarah dunia. Negara seperti Australia, Kanada, Singapura, atau Hong Kong kini dikenal makmur, stabil, dan berpengaruh. Namun, kenyataannya tidak semua bekas jajahan Inggris mengalami nasib serupa. Di balik kemajuan itu, terdapat sejarah panjang penjajahan yang sama kerasnya, bahkan lebih kejam dibandingkan kolonialisme oleh Belanda, Spanyol, atau kekuatan Eropa lainnya.

Baca juga Harry Kane Ukir 100 Gol Bersama Bayern Munchen, Lewati Rekor Cristiano Ronaldo

Salah satu contoh paling mencolok adalah India. Negara besar ini dulu menjadi koloni paling penting bagi Inggris dan disebut sebagai “mutiara mahkota” Kekaisaran Britania. Namun, kebesaran India diruntuhkan oleh strategi kolonial yang memecah belah masyarakat melalui politik adu domba berbasis agama dan etnis. Inggris sengaja menanamkan sentimen permusuhan antara Hindu dan Muslim, salah satunya lewat kebijakan pemisahan Benggala pada tahun 1905 yang membagi wilayah berdasarkan mayoritas agama.

Kebijakan ini kemudian menjadi cikal bakal pemisahan India tahun 1947, ketika Inggris membagi wilayahnya menjadi dua negara: Pakistan (mayoritas Muslim) dan India (mayoritas Hindu dan Sikh). Pemisahan ini memicu kekerasan luar biasa di seluruh wilayah, terutama di Punjab dan Benggala—yang kini menjadi Bangladesh.

Tragedi tersebut menewaskan antara 200.000 hingga 2 juta jiwa dan membuat sekitar 14 juta orang mengungsi. Dalam bukunya Midnight’s Furies. Penulis Nisid Hajari menggambarkan kekejaman ini secara mengerikan. Desa-desa dibakar habis, pria dan anak-anak dibantai, perempuan muda diperkosa, bahkan wanita hamil disiksa hingga bayinya dikeluarkan paksa. Beberapa saksi dari Inggris sendiri menyebut kekejaman itu lebih brutal dari kamp kematian Nazi.

Warisan Pahit Kolonialisme Inggris

Ironisnya, semua itu terjadi di bawah pengawasan pemerintahan kolonial Inggris yang kemudian pergi meninggalkan India dalam keadaan hancur dan dipenuhi kebencian antarkelompok yang masih terasa hingga kini.

Namun, Mengapa bekas jajahan Inggris terlihat lebih makmur tetap menjadi pertanyaan besar. Sebagian negara bekas koloni memang berhasil bangkit dan maju setelah merdeka, tetapi bukan semata-mata karena warisan penjajah. Faktor-faktor seperti stabilitas politik, investasi dalam pendidikan, sistem hukum yang kuat, dan kemampuan mengelola sumber daya menjadi kunci utama kemajuan negara-negara tersebut.

Sebaliknya, di banyak wilayah lain, warisan Inggris justru meninggalkan luka sosial dan politik yang dalam. Perang sipil di Nigeria, pemberontakan di Kenya, konflik tak berujung di Palestina, perang di Rhodesia (kini Zimbabwe), dan perpecahan di Sudan merupakan bukti nyata bahwa kolonialisme Inggris kerap menanam benih konflik jangka panjang.

Kesimpulan

Pertanyaan Mengapa bekas jajahan Inggris terlihat lebih makmur tidak memiliki jawaban tunggal. Beberapa negara memang berhasil memanfaatkan struktur administratif dan sistem hukum peninggalan Inggris untuk membangun fondasi ekonomi modern. Namun di sisi lain, banyak pula yang menderita akibat politik adu domba dan eksploitasi sumber daya yang brutal. Pada akhirnya, kemakmuran pasca-kolonial bukanlah hadiah dari penjajahan, melainkan hasil perjuangan rakyat yang mampu bangkit dari luka sejarah panjang imperialisme.